|
Written by Maria Magdalena
|
|
Monday, 14 May 2012 20:21 |
|
Hari ini (14 Mei 2012) saya mendapat email dari Majalah Gatra yang ingin mewawancara saya dalam rangka penulisan tentang homeschooling ditinjau dari berbagai sudut bahasan, baik dari sisi keluarga maupun dari sisi bisnis. Tulisan ini rencananya akan ditayangan pada majalah Gatra edisi 18 Mei 2012. Berikut ini adalah jawaban saya terhadap wawancara tertulis dari Gatra :
|
|
Last Updated on Tuesday, 15 May 2012 09:20 |
|
Read more...
|
|
Written by Maria Magdalena
|
|
Monday, 23 April 2012 05:44 |
|
Pada umumnya, perjalanan awal home education dipenuhi dengan penjadwalan aktivitas anak. Orang tua masih mengacu pada aktivitas persekolahan yang memakan waktu dari pagi hingga sore. Orang tua menyiapkan lembar penjadwalan, things to do list, daftar check list aktivitas harian, untuk memastikan bahwa anak tidak melewatkan satu waktu pun melakukan aktivitas belajarnya.
Di lain pihak, banyak pertanyaan dari orang yang belum paham tentang home education, yaitu : "apakah home education akan menghabiskan waktu orang tua? Apakah dengan home education orang tua jadi tidak punya waktu lagi untuk dirinya sendiri karena disibukkan dengan urusan pendidikan anak?" Bisa jadi demikian, jika yang dihadapi tiap hari adalah jadwal, thing to do list, dan check list harian yang penuh rencana aktivitas home education dari pagi hingga sore.
Padahal, jika ditelusuri, dijalankan, dan didapatkan esensi dari home education, justru home education mampu memberikan banyak waktu bagi anak. Karena proses belajar formal di rumah hanya untuk dirinya sendiri, maka anak home education bisa cepat menyelesaikan pelajarannya, hingga mempunyai banyak waktu untuk dirinya sendiri. Dengan catatan bahwa anak tidak dijejali berbagai aktivitas oleh orang tua.
Disamping itu, waktu yang cukup bagi anak untuk melakukan aktivitas yang menjadi passion pribadinya itu sangat penting. Tidak ada takaran pasti tentang jumlah waktu yang bisa kita sediakan untuk mereka karena kebutuhan tiap anak berbeda. Mengapa ini penting? Karena dengan waktu untuk sendiri ini anak akan b isa mengembangkan kreativitasnya, menyalurkan kecerdasan pribadinya, dan mengembangkan otoritasnya.
Tidak seperti anak yang selalu dikendalikan jadwal belajar ini-itu tiap waktunya. Anak yang selalu dikendalikan jadwal belajar dan aktivitasnya tidak akan mampu mengembangkan kreativitas yang berasal dari pemikiran originalnya, juga tidak bisa belajar menyalurkan otoritasnya. Anak yang demikian akan selalu belajar bahwa dirinya diatur oleh orang lain, dia tidak bisa belajar mengatur dirinya sendiri.
Nah, pada proses home education, sangat dimungkinkan bagi anak untuk belajar menyalurkan otoritas pribadinya dan originalitasnya jika dibandingkan anak sekolah formal yang bersekolah dari pagi hingga sore, lalu dilanjutka dengan les ini dan itu.
Maka, marilah keluarga home education memanfaatkan kondisi ini supaya anak bisa belajar untuk mengendalikan diri dan otoritasnya dan tetap mengembangkan kreativitasnya yang original. |
|
Last Updated on Monday, 23 April 2012 06:56 |
|
Written by Maria Magdalena
|
|
Saturday, 21 April 2012 18:02 |
|
Membuat sundial (jam matahari) ternyata tak semudah yang dibayangkan. Tapi, percobaan ini pun membawa kami pada kesadaran bahwa jam matahari tidak seperti jam biasa! Jadi, kami pun membuat jam matahari dari sangat awal. Dari kertas kosong.
Bahan percobaan kali ini adalah : selembar kertas kosong, sebuah anak panah mainan, selotape, pensil, penggaris, dan kompas.

Kertas kosong kami tempelkan di lantai teras dengan bantuan selotape. Pastikan kertas ini terkena sinar matahari. Lalu anak panah mainan kami tempelkan di bagian tengah kertas dengan bantuan selotape juga. Nah, dasar dari jam matahari telah dibuat.
Selanjutnya, tiap pergantian jam kami tandai dengan pensil pada ujung bayangan anak panah. Pada hari percobaan ini matahari seringkali tertutup awan, sehingga ujung bayangan anak panah tidak tampak jelas. Jadi dalam percobaan kali ini kami hanya bisa menandai 3 jam saja. Namun ini sudah mencukupi untuk menarik kesimpulan percobaan.
Apa yang kami dapat?
Tanda yang kami buat dengan pensil tadi ternyata jika dihubungkan akan membentuk garis lurus. Garis lurus ini adalah arah lintasan matahari. Setelah kami dekatkan dengan kompas, ternyata arah garisnya lurus membentang antara timur (E) ke barat (W)! Jadi, membuat jam matahari adalah membuat garis lurus, bukan lingkaran seperti jam pada umumnya.

Selamat mencoba di rumah! |
|
Written by Maria Magdalena
|
|
Friday, 09 March 2012 05:23 |
|
Suatu hari seorang ibu mencoba melakukan test matematika pada anaknya yang cerdas, namun masih berusia 7 tahun :
“Kalau seorang anak balita bisa meminum susu sebanyak 200 ml dalam 5 menit, berapa yang dia bisa minum dalam 10 menit?”
Jawab si anak :
“300 ml”
Si ibu bengong. Dia terkejut, mengapa soal semudah itu tak bisa dijawab dengan benar oleh anaknya. Dia pun mencari tahu :
“Kenapa bisa 300 ml saja?”
Si anak :
“Karena anak itu menumpahkan sebagian susunya, sebagian lagi merembes keluar dari mulutnya. Dia main-main dengan susu yang dia minum.”
Ooops... benar juga! Itulah yang sering terjadi ketika seorang anak balita minum susu! Berapa kali kita dengar seorang ibu dari anak yang masih balita berkata : “Minum susumu dengan benar! Jangan tumpah-tumpah dan jangan dibuat main-main!”
_____________________
Di kesempatan testing yang lain, pertanyaan si ibu begini :
“Berapa jarak yang bisa ditempuh seorang pejalan kaki dalam waktu 2 jam? Jika dia bisa berjalan sepanjang 1 km dalam 1 jam?”
Jawab si anak :
“Tergantung, capek atau nggak orang itu setelah jalan 1 km. Kalau capek dan haus mungkin 2 jam itu dia cuma 1 km saja, karena dia berhenti untuk istirahat dan minum. Atau dia cuma 1.5 km saja karena jalannya tambah pelan.”
Si ibu cuma bisa manggut-manggut sambil membenarkan dalam hati, dan mengakui kecerdasan buah hatinya.
|
|
Read more...
|
|
Written by Maria Magdalena
|
|
Tuesday, 06 March 2012 06:35 |
|
Meskipun saya menganut paham Moore tentang better late than early, penghargaan pada kesiapan belajar anak, dan pendapat-pendapat yang lain, namun saya tetap mengajarkan karakter-karakter dan sikap-sikap yang baik. Karakter yang mendukung perkembangan kedewasaan berpikir anak, supaya anak mampu menyesuaikan diri dengan bahagia di lingkungan hidupnya. Dan ini juga ditekankan oleh Moore, bahwa walaupun kita memberi kebebasan pada anak untuk menyatakan kesiapannya belajar formal, namun pendidikan kepribadian dan karakter harus tetap dijalankan sejak dini, sesuai tahap perkembangan anak.
Keinginan dan persetujuan anak saya dalam mengikuti World Education Games saya jadikan sebagai momen penting untuk mempelajari tentang komitmen dan tanggung jawab. Ketika dia telah memilih dan setuju, maka dia harus bertanggung jawab pada pilihannya. Anak saya harus mengikuti prosesnya sampai selesai. Dia harus menyelesaikan hal-hal yang setuju untuk dia awali.
Membaca tentang hal ini, apakah anda membayangkan suatu proses ketat dimana anak saya dengan penuh keterpaksaan menjalani proses ini sendirian dan saya tinggal main perintah sambil ongkang-ongkang? Tentu tidak. Ini adalah proses yang kami jalani bersama, penuh dukungan, dorongan, maupun tarikan, dan ada kelonggaran juga. Semua proses ini kami jalani dengan alami dan rileks.
Kami berkomunikasi tentang kebaikan dan keburukan sehubungan dengan World Education Games ini, kami juga saling membagi semangat, menceritakan keengganan, dan menciptakan suasana rumah yang mendukung interaksi yang sedang sangat intens dalam satu tema ini. Dalam hal yang terakhir ini kami tidak menerima tamu sama sekali, telepon pun saya matikan ketika anak berhadapan dengan tantangan lomba. Tidak masalah, ini hanya untuk 2 hari saja.
Yang ingin saya berikan pada anak adalah kenyataan bahwa dia tidak sendiri, bahwa tanggung jawab itu adalah hal yang menyenangkan untuk dilakukan, bahwa memelihara komitmen itu perlu untuk mencapai cita-citanya.
Medali, sertifikat, maupun hadiah uang (kalau ada) itu bukan hal yang penting. Yang terpenting adalah ketika anak mampu mengendalikan diri untuk keluar dari zona nyamannya demi mencapai cita-citanya. Dunia anak-anak adalah dunia bermain, demikian pula anak saya, dia sangat suka bermain. Bermain adalah area yang sangat nyaman baginya. Namun kemampuan mengarahkan diri untuk melakukan sesuatu yang berbeda, namun baik, harus dipelajari pula. |
|