Support Group Home Education Indonesia

You are here:
  • narrow screen
  • wide screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • blue color
  • green color
Membangun Tim Belajar PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 11 July 2011 06:12

Pertanyaannya adalah : mengapa harus belajar dengan efektif? Apakah pembelajaran yang dibangun oleh keluarga homeschooling sudah baik? Apakah sudah menciptakan lingkungan belajar yang interaktif?

Pola belajar yang harus dikembangkan adalah belajar dalam tim. Artinya, antara anak dan orang tua adalah satu tim. Kebanyakan proses belajar konvensional adalah anak sebagai murid dan orang tua sebagai guru, ini hanya akan menempatkan anak sebagai figur yang dijejali informasi, dan orang tua adalah figur yang menjejali informasi. Dan proses belajar ini bukanlah proses belajar dalam tim. Apa akibat dari proses ini?

  1. Kurangnya rasa keterlibatan anak terhadap proses belajar, hingga dia terbiasa untuk menjadi penerima pasif tanpa mau tahu apa yang ingin dia pelajari.

  2. Orang tua dibuat terlalu sibuk karena merasa sebagai penentu utama dalam proses belajar.

  3. Kedua kondisi diatas menimbulkan ketidakseimbangan peran dalam proses belajar, akibatnya anak tidak terlibat secara optimal dalam proses belajar dan orang tua merasa sangat terbebani. Ini tidak baik.

Apa yang terjadi jika anak dan orang tua menempatkan diri dalam sebuah tim?

  1. Adanya proses saling belajar, ini membuat anak melihat sebuah fenomena contoh sikap belajar yang baik dari orang tuanya. Orang tua menransfer sikap belajar yang baik pada anak, yait usikap yang aktif belajar, bukan melulu sikap mengajar.

  2. Adanya bonus hasil belajar, yaitu pembelajaran hubungan interpersonal, pembelajaran ilmu negosiasi, dan pembelajaran kerja tim.

  3. Anak akan mampu mengembangkan : kemampuan komunikasi oral, kemampuan mendengarkan, kepercayaan diri, mengembangkan motivasi dan penetapan tujuan bagi tim belajarnya. Ini nantinya akan berujung pada kemampuan kepemimpinan yang baik dalam diri anak.

  4. Dalam waktu yang sedikit akan ada banyak hal yang bisa dipelajari, karena segala proses belajar dilakukan dalam sebuah kesepakatan, bukan keharusan. Ini menjadikan proses belajar jadi sangat efektif.

Bagaimana suatu tim belajar bisa dijalankan?

  1. Dari directing menjadi guiding. Dari memberi perintah jadi membimbing. Ini artinya, ada proses menunjukkan kebenaran yang juga dibarengi proses mendengarkan kemauan anak. Keduanya berjalan seiring. Orang tua harus meninggalkan keinginan pribadi dalam proses membimbing ini.

  2. Competing → collaborating. Alih-alih membuat suatu kompetisi, proses belajar dalam tim ditujukan untuk berkolaborasi, bekerja sama untuk mewujudkan suatu kondisi belajar yang lebih baik.

  3. Relying on rules → relying on guidelines. Rules berbeda dengan guideline. Rules (peraturan) adalah sesuatu yang harus dijalankan, tidak terbantahkan. Guidelines (pedoman) adalah pokok gagasan untuk mencapai suatu tujuan. Pedoman dapat dilakukan secara fleksibel dengan berbagai cara yang disepakati bersama dalam tim dengan tujuan yang tetap. Melakukan sesuatu hal berdasarkan perintah hanya akan menghasilkan robot-robot yang beraksi dengan rasa takut. Tapi melakukan suatu hal untuk mencapai tujuan dengan berdasarkan pada pedoman akan membawa pada kreativitas usaha.

  4. Lecturing → team activities. Berdasarkan gambar di bawah ini, proses belajar dengan lecturing (mengajar) hanya akan menghasilkan penyerapan materi sebanyak 5%. Tapi jika dilakukan dalam tim akan menghasilkan penyerapan materi sebanyak 50% hingga 90%.

  5. Consistency/Sameness → diversity/flexibility. Proses belajar yang berhasil pada jama dahulu dan pada seorang anak belum tentu bisa diterapkan pada jaman sekarang dan pada anak yang berbeda pula. Proses belajar tim mengedepankan perbedaan tiap individu dan fleksibilitas prosesnya, untuk itu keahlian saling mendengarkan (listening) sangat dibutuhkan.

  6. Secrecy → openness/sharing. “Sudahlah, pokoknya lakukan saja apa yang say asuruh,” pernahkah mengucapkannya pada anak? Tahu tidak, ucapan ini bagi anak mengandung sangat banyak kerahasiaan, sehingga menimbulkan pertanyaan dalam diri anak : “Mengapa saya HARUS melakukannya? Ada apa dibalik kegiatan itu hingga saya HARUS melakukannya?” ini hanya akan menimbulkan kebingungan pada anak. Orang tua sebagai anggota tim belajar homeschooling harus memeberi penjelasan mengapa tim harus melakukan suatu aktivitas, penjelasan ini harus diberikan hingga anak paham dan sukarela melakukan aktivitas tersebut.

  7. Passive → active. Kerja tim seharusnya membuat semua anggota tim menjadi aktif. Bukan kerja tim namanya kalau ada satu anggota yang pasif, itu berarti kerja tim belum maksimal dan harus terus dilakukan perbaikan.

  8. Isolated decision → involvement of others. Membuat keputusan bersama, keputusan tidak hanya diserahkan pada satu pihak saja. Anak dan orang tua harus terlibat secara seimbang.

  9. Result thinking → process thinking. Tujuan tim harus dibuat dan disepakati sebagai tujuan bersama. Namun, yang utama bukanlah tujuan ini, yang utama adalah proses dalam mencapai tujuan tersebut. Proses kerja sama dalam tim untuk mencapai tujuan tersebut, itulah yang utama.

  10. Mengganti ujian dengan diskusi, ujian biasanya hanya untuk menguji kinerja anak, diskusi lebih kepada kinerja tim.

Tentu saja belajar dalam tim ini membutuhkan perubahan pola pikir orang tua. Jika dari awal orang tua telah membuat proses belajar yang hanya satu arah, maka memang dibutuhkan usaha ekstra untuk merubah pola pikir orang tua. Namun orang tua yang telah memiliki pola pikir kerja tim dalam proses belajar bersama anak akan menransfer pola pikir tersebut pada anak. Jika terjadi demikian, maka anak juga akan memiliki kebiasaan kerja tim dalam pembelajarannya. Ini tentu hal yang sangat baik, dan segala kemampuan kerja tim akan dimiliki anak, yaitu segala keuntungan yang telah saya uraikan di atas tentang “Apa yang terjadi jika anak dan orang tua menempatkan diri dalam sebuah tim?”

Kerja tim bisa dilakukan sejak dini, ketika anak masih usia dini, tidak perlu menunggu hingga "anak bisa diajak berkomunikasi", yaitu ketika anak telah berusia remaja. Anak usia 5 tahun pun telah bisa diajak bekerja dalam tim, yaitu melalui pembiasaan mendengarkan orang lain dan mengetahui bahwa dirinya didengarkan oleh orang lain (orang tua).

Dalam homeschooling, kita tentu tidak ingin menghasilkan anak-anak yang pasif belajar, hanya menerima, bagaikan robot yang tak punya sikap sendiri. Kita ingin anak tumbuh dengan keyakinan diri dan kemampuan interpersonalnya. Mari mengubah ruang kelas kita menjadi ruang bagi kerja tim untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan bahagia.



Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 18:39
 

The Logo

Search

Get Update

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Login

Jika anda keluarga homeschooling, silakan register dan melakukan login untuk menikmati isi website Klub Sinau ini lebih lanjut



Yang sedang online

We have 4 guests and 1 member online
  • Charleskr

Bookmark

Add to: Mr. Wong Add to: Webnews Add to: Icio Add to: Oneview Add to: Yigg Add to: Linkarena Add to: Digg Add to: Del.icoi.us Add to: Reddit Add to: Simpy Add to: StumbleUpon Add to: Slashdot Add to: Netscape Add to: Furl Add to: Yahoo Add to: Blogmarks Add to: Diigo Add to: Technorati Add to: Newsvine Add to: Blinkbits Add to: Ma.Gnolia Add to: Smarking Add to: Netvouz Add to: Folkd Add to: Spurl Add to: Google Add to: Blinklist Information
by: camp26.biz

Join our :

Facebook Share

Share on facebook

Google +1


By PLAVEB

Choose Your Language

Browse this website in:

Blog Home Education:

 


The Root of Learning

Daftar Klub Sinau Online :

Registrasi Online

Award :