Support Group Home Education Indonesia

You are here:
  • narrow screen
  • wide screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • blue color
  • green color
Cara-cara Belajar Homeschool
Kulwap Mempersiapkan Anak Pendidikan Berbasis Keluarga Mengikuti UNPK Bersama Ibu Patricia Lestari Taslim PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Wednesday, 24 June 2015 10:43

Selamat malam.... kenalkan saya Maria. Narasumber kita malam ini sudah siap, yaitu ibu Patricia Lestari Taslim. Sekilas perkenalan, Ibu Patricia ini ketua umum APRINESIA, Sebuah perkumpulan untuk keluarga yang mendidik anaknya melalui pendidikan berbasis keluarga.

Ibu Patricia sudah membimbing anaknya melalui pendidikan berbasis keluarga hingga lulus tingkat SMA. Oleh karena itu pengalaman beliau dengan ujian kesetaraan ini sudah sip banget.

Saya langsung saja, akan saya paste materi dari ibu Patricia:

Liku-liku Mencari Ijazah

Mei 2011, ketika awal menapak dunia PBK, kami melangkah dg penuh keyakinan bahwa pasti ada jalan. Hambatan dan tantangan kami lalui. Dengan berjalannya waktu, kami pun mulai berpikir tentang bagaimana agar anak kami dapat memperoleh ijazah.

Berbagai informasi pun berusaha kami kumpulkan tentang apa, di mana, dan bagaimana kami dapat mengupayakan ijazah anak kami secara legal. Informasi demi informasi pun kami peroleh. Herannya, semua merujuk ke satu kota kecil di Jawa Tengah. Saya pun mencoba mencari informasi tentang prosedur mengikutkan anak kami ujian di kota tersebut secara legal. Dan akhirnya kami pun memperoleh informasi yang kami harapkan.

Tidak selesai sampai di situ, rasa penasaran saya akhirnya membuat saya berusaha mencari informasi lain. Dengan bantuan seorang teman, akhirnya saya dipertemukan dengan seseorang yang dapat membantu kami agar anak kami dapat menempuh ujian di Yogya, tidak perlu ke kota lain. Sebut saja Pak X. Lewat Pak X kami dipertemukan dg Pak Y dan bu Z. Ketiganya sangat membantu, dengan informasi yang sangat detil.

Tak dapat dipungkiri, setelah menerima kami dan mendengar keluhan kami yang sudah hampir 2 tahun menjalani pendidikan berbasis keluarga, akhirnya kami dibantu maksimal agar dapat menempuh ujian, setelah kami memenuhi segala persyaratan yg sudah ditentukan. Semua GRATIS, sekali lagi GRATIS!

Walau karena kesalahan administrasi alias kesalahan manusia, kemudian 7 dari 8 peserta UNPK tidak dapat menempuh UNPK pada th 2013 tersebut, tapi akhirnya, mereka semua diperkenankan untuk menempuh UNPK pada tahun ajaran berikutnya. dengan tanpa menunda masa belajar yang sudah diperkenankan untuk melanjutkan ke jenjang berikut.

Jadi, pada saat mereka menempuh UNPK A, sesungguhnya secara masa studi, mereka sudah menjalani tahun pertama sebagai warga belajar Paket B.

Bukan itu yang ingin saya jelaskan, tetapi bahwa semua itu kami tempuh secara GRATIS, dan masing-masing kami hanya dikenakan uang administrasi sebesar Rp 25.000 saja pada saat pengambilan ijazah, yang konon untuk mengisi kas. Saya tidak tahu, apakah 7 peserta lain juga membayar biaya pengisi kas ini, tetapi saya pribadi. membayar uang yang diminta ini walau TANPA tanda terima. Saya ikhlas.

Bahkan saya. dan para orangtua lainnya. pada tahun 2014, sempat bantingan. untuk sekedar ucapan terima kasih kami pada petugas yang sudah bekerja keras membantu kami. Uang hasil bantingan tersebut, akhirnya kami belikan sebuah gadget sederhana. Mengapa tidak diberikan dalam bentuk uang? Kami khawatir disalahartikan. Jadi ketika beberapa waktu kemudian sempat muncul sebuah status di media sosial yang menganggap kami adalah keluarga bermental GRATISAN, mungkin karena adanya kesalahpahaman. Dan Kami pun tidak berminat untuk membantahnya lebih lanjut.

Lalu mengapa hal ini sekarang saya buka?

Hanya untuk memberikan penjelasan kepada para pemerhati jalur untuk menempuh ujian bahwa "ada yang harus dibayar" untuk memperoleh sebuah ijazah. Apakah dengan perjuangan, dengan kejujuran, dengan hinaan, atau dengan sejumlah rupiah dan jalan pintas. Semua jalan boleh saja dipilih untuk ditempuh. Tergantung dari kesiapan kita sebagai orangtua untuk menjalaninya.

Adapun karena upaya yang kami lakukan kemudian saya mendapat predikat sebagai seorang ibu yang bermental GRATISAN, bagi saya, tidak masalah. Paling tidak saya sudah membuktikan, bahwa sebetulnya jalur untk menempuh ujian dan mendapatkan ijazah bagi keluarga praktisi pendidikan berbasis keluarga dapat ditempuh melalui berbagai cara dan secara sistem, sebetlnya dapat diperoleh secara GRATIS. Tetapi dalam prakteknya. selalu ada pihak-pihak yang memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat untuk membantu. Ada keluarga yang merasa terbantu, sah-sah saja menggunakan cara ini.

Ada keluarga yang ingin gampang dan memilih membayar dengan ekstra rupiah agar segala persiapan persyaratan dibantu oleh "jasa" yang membantu, pun tidak ada larangan. Tetapi ketika uang menjadi hambatan untuk "membayar". hendaknya secara birokrasi pun dapat dimudahkan.

Liku-liku memperoleh tidak menyurutkan kami untk mengusahakan agar anak kami memiliki ijazah. Bahkan jauh-jauh hari, kami sudah mulai mencari informasi jalur yang harus ditempuh dan persyaratan yang harus dipersiapkan untuk dapat menempuh ujian dan memperoleh ijazah.

Tanpa bermaksud mendewakan makna selembar ijazah, kami berusaha memberikan pemahaman pada putri kami tentang pentingnya ijazah baginya. Kenyataannya, kami lebih mengutamakan ketrampilan dan keahlian yang dimiliki oleh putri kami. Tetapi bahwa kami masih berpijak di bumi nusantara yang masih memandang ijazah sebagai selembar kertas yang berarti, maka kami tidak ingin menyepelekan kebutuhan akan ijazah. Maka kami, berusaha mendukung setiap potensi yang ada dalam diri putri kami untuk berkembang, tanpa meninggalkan pentingnya selembar kertas yang disebut ijazah. Bukan dengan cara yang ilegal, tetapi tetap dengan cara yang legal. Karena ijazah bagi kami, lebih sebagai sebuah perlengkapan yang tersedia, BILA KELAK DIPERLUKAN.

Untuk itulah, kami selalu menekankan pada putri kami: selama masih menginjakkan kaki di bumi nusantara, jangan pernah mengabaikan perlunya selembar ijazah. Setidaknya untuk saat ini. Dan itu sebabnya, kami masih mewajibkan putri kami untuk tetap mengikuti ujian untuk memperoleh selembar ijazah. Kami tidak pernah tahu, apakah ijazah-ijazah itu kelak akan berguna bagi kehidupan putri kami, kelak. Tetapi satu yang kami tahu: bahwa kami sebagai orangtuanya, BERKEWAJIBAN untuk membuka pintu masa depan putri kami seluas-luasnya. Bukan dengan menciptakan hambatan dengan mengabaikan perlunya sebuah ijazah.

Tetapi satu yang kami tahu untuk saat ini bahwa putri kami tidak akan bisa mendaftar untuk ikut SBMPTN bila tidak memiliki selembar kertas yang bernama ijazah. Bahkan pintu tersebut SEPERTINYA masih tertutp rapat, bagi mereka yang tidak memiliki NISN. Bersyukur, putri kami pernah duduk di bangku sekolah walau hanya sampai jenjang pendidikan dasar, karena dengan demikian, putri kami sudah memiliki NISN

Bersyukur, putri kami mau menerima penjelasan kami untuk tetap menempuh jalur ujian dan memperoleh ijazah. Kalau tidak. . . maka saya tak akan mampu menuliskan cerita ini untuk berbagi pengalaman dan semangat. Kami tidak pernah tahu apakah beberapa tahun ke depan, ijazah masih akan menjadi selembar kertas yang penting dan begitu berharga.

Last Updated on Wednesday, 24 June 2015 11:02
Read more...
 
KulWap Unschooling Bersama Yudi Arianto PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Thursday, 11 June 2015 10:14

Maria Magdalena:
Selamat malam teman-teman... selamat bergabung di Kulwap yang tampaknya bakal seru ini sebuah kulwap yang sangat kontroversial, temanya: Unschooling! Narasumber yang hadir malam ini juga sangat kompeten di bidang unschooling karena telah mempraktekkannya sendiri. Saya perkenalkan sedikit tentang pak Yudi... dari perkenalannya saja sudah seru nih. Perkenalan pak yudi ini ditulis oleh beliau sendiri:

"Saya Yudi Arianto, anak saya 4, tertua 17 tahun dan termuda 7 tahun. Petualangan saya dimulai justru dengan mendirikan sekolah untuk anak saya yang unik. Sekolah itu kini malah sudah sampai tingkat SMA. Hanya untuk menyadari bahwa sekolah formal tidak cocok untuk anak saya dan itu mengantarkan ke homeschooling. Karena HS ternyata masih kurang pas, mengantarkan saya ke unschooling bahkan yang semula untuk anak pertama keterusan sampai anak ke-4. Kini bahkan kami berpikir utk uncollege sekalian."

Luar biasa! 4 anak unschooling semua. Buat saya, unschooling itu tidak ringan. Baiklah, itu perkenalannya. Sekarang, silakan pak Yudi untuk mulai memaparkan tentang unschooling. Monggo pak

Yudi Arianto:
Baik rekan rekan. Selamat malam.
Unschooling adalah "kutub ekstrim" gerakan HS. Kutub yang lain adalah school at home style yang versi ketat HS. Unschooling (US) tidak percaya sama sekali dengan kurikulum.
US dibangun dgn premis bahwa orangtua dan anak-anak akan menemukan jalan terbaiknya sendiri tanpa tergantung pada institusi pendidikan, penerbit buku, atau ahli pendidikan untuk melakukan apa yg pantas dilakukan.
US berarti melakukan sesuatu yang menarik bagi kita yang tak terhindarkan akan mengantarkan kita pada sains, math, sejarah, sosiologi dan seterusnya.
US adalah melakukan aktivitas nyata dalam suatu bidang bukan karena karena itu MUNGKIN berguna, melainkan karena hal itu benar-benar menarik.
US dibangun atas semangat bahwa secara par excelence ia merupakan alternatif dari persekolahan.
Dia bukan metode atau resep utk dicoba melainkan lebih sebagai cara pandang terhadap anak dan kehidupan.
US menganut prinsip children led learning, anak menentukan apa yg perlu dia pelajari, apa yg penting atau tdk penting bagi dirinya, bahkan untuk do nothing.

So, peran orangtua?
Pertama : menanamkan kesadaran akan misi hidup. Tuhan punya maksud tertentu atas kehadiran kita, tugas kita adalah menemukan misi itu.
Kedua : menciptakan lingkungan yg kondusif bagi eksplorasi dan eksperimen apapun.
Ketiga : menjadi role model.
Cuma itu yg dibutuhkan. Gampang, hemat biaya, tidak pakai stres dan rileks.

OK sampai disini paparan saya

Last Updated on Thursday, 11 June 2015 13:44
Read more...
 
KulWap Charlotte Mason Bersama Ellen Kristi PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Friday, 29 May 2015 13:03

Maria Magdalena:

Teman-teman... Selamat malam....

Sudah siap dengan KulWap malam ini?

Nah disini pasti sudah ada beberapa orang yang baca buku Cinta Yang Berpikir.

Malam ini kita akan berbincang dengan penulisnya, mbak Ellen Kristi, tentang praktik keseharian edukasi keluarga dengan metode Charlotte Mason.

Buat saya pribadi, metode ini juga agak-agak sulit untuk diterapkan. Oleh karena itu saya sangat tertarik ngikuti kulwap malam ini.

ok saya perkenalkan dulu tentang mbak Ellen Kristi

Ellen Kristi adalah seorang ibu dari 3 anak, yang menjalankan homeschooling dengan metode Charlotte Mason. Ellen Kristi juga mengelola website www.cmindonesia.com untuk memperkenalkan filosofi pendidikan Charlotte Mason dalam bahasa Indonesia. Selain mengelola website, Ellen Kristi juga mengelola komunitas Charlotte Mason melalui grup Facebook: Komunitas Charlotte Mason Indonesia. Tahun 2012, Ellen Kristi menerbitkan sebuah buku: Cinta Yang Berpikir, yang memuat prinsip-prinsip Charlotte Mason dan panduan penerapannya dalam keseharian edukasi keluarga.

Bagaimana sebenarnya penerapan prinsip-prinsip Charlotte Mason ini dalam keseharian pendidikan anak? Mari kita ikuti KulWap malam ini bersama ibu Ellen Kristi.

Ok kita mulai ya... saya harap tidak ada yang menulis apapun di forum ini. Untuk bertanya silakan menulis ke saya (jalur pribadi), nanti saya akan copy-paste ke group ini untuk dijawab oleh mbak Ellen.

Silakan mbak

Last Updated on Friday, 29 May 2015 14:00
Read more...
 
KulWap Keseharian Homeschooling PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Thursday, 28 May 2015 20:58
Yuli Al Fi:
Assalamualaikum. Selamat malam semuanya. Saya Yuli, moderator kulwap kali ini dengan tema "Keseharian HS & FAQ tentang HS".
Kulwap hari ini adalah kulwap perdana di Klub Sinau dan direncanakan nanti akan terus berkelanjutan
Sebelumnya akan saya posting biodata narasumber kita kali ini
Nama: Maria Magdalena
- Memutuskan ber-PBK sejak 2006 demi mewujudkan cita-cita suami, tapi keterusan keenakan sampai sekarang.
- Sekitar 2007 membuat buku kumpulan tulisan "Warna Warni Homeschooling" dengan teman-teman milis Sekolahrumah
- Tahun 2007 juga mendirikan komunitas homeschooling Klub Sinau.
- Tahun 2009 menerbitkan buku sendiri "Anakku Tidak (Mau) Sekolah".
- Sejak tahun 2014 bersama aktivis PBK membentuk APRINESIA, sebuah lembaga berbadan hukum untuk membantu mengadvokasi keluarga-keluarga PBK dan duduk sebagai Sekretaris Jenderal di dalamnya.
- Sekarang, 2015, berusaha membawa virus PBK ke pedalaman Sumatera, dengan tujuan untuk membangkitkan kepercayaan diri orangtua dalam mendidik anak sendiri. Ini semua terdorong karena kondisi persekolahan yang makin tak mampu membentuk manusia dewasa dengan karakter manusiawi.
Demikian tadi biodata narasumber kita. Untuk selanjutnya saya persilahkan narasumber untuk memberikan materi
Maria Magdalena: Selamat malam?
Saya langsung mulai ya...
Keseharian HS:
Last Updated on Friday, 29 May 2015 10:53
Read more...
 
Home Education Memberikan Waktu, Bukan Menghabiskan Waktu PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Monday, 23 April 2012 05:44

Pada umumnya, perjalanan awal home education dipenuhi dengan penjadwalan aktivitas anak. Orang tua masih mengacu pada aktivitas persekolahan yang memakan waktu dari pagi hingga sore. Orang tua menyiapkan lembar penjadwalan, things to do list, daftar check list aktivitas harian, untuk memastikan bahwa anak tidak melewatkan satu waktu pun melakukan aktivitas belajarnya.

Di lain pihak, banyak pertanyaan dari orang yang belum paham tentang home education, yaitu : "apakah home education akan menghabiskan waktu orang tua? Apakah dengan home education orang tua jadi tidak punya waktu lagi untuk dirinya sendiri karena disibukkan dengan urusan pendidikan anak?" Bisa jadi demikian, jika yang dihadapi tiap hari adalah jadwal, thing to do list, dan check list harian yang penuh rencana aktivitas home education dari pagi hingga sore.

Padahal, jika ditelusuri, dijalankan, dan didapatkan esensi dari home education, justru home education mampu memberikan banyak waktu bagi anak. Karena proses belajar formal di rumah hanya untuk dirinya sendiri, maka anak home education bisa cepat menyelesaikan pelajarannya, hingga mempunyai banyak waktu untuk dirinya sendiri. Dengan catatan bahwa anak tidak dijejali berbagai aktivitas oleh orang tua.

Disamping itu, waktu yang cukup bagi anak untuk melakukan aktivitas yang menjadi passion pribadinya itu sangat penting. Tidak ada takaran pasti tentang jumlah waktu yang bisa kita sediakan untuk mereka karena kebutuhan tiap anak berbeda. Mengapa ini penting? Karena dengan waktu untuk sendiri ini anak akan b isa mengembangkan kreativitasnya, menyalurkan kecerdasan pribadinya, dan mengembangkan otoritasnya.

Tidak seperti anak yang selalu dikendalikan jadwal belajar ini-itu tiap waktunya. Anak yang selalu dikendalikan jadwal belajar dan aktivitasnya tidak akan mampu mengembangkan kreativitas yang berasal dari pemikiran originalnya, juga tidak bisa belajar menyalurkan otoritasnya. Anak yang demikian akan selalu belajar bahwa dirinya diatur oleh orang lain, dia tidak bisa belajar mengatur dirinya sendiri.

Nah, pada proses home education, sangat dimungkinkan bagi anak untuk belajar menyalurkan otoritas pribadinya dan originalitasnya jika dibandingkan anak sekolah formal yang bersekolah dari pagi hingga sore, lalu dilanjutka dengan les ini dan itu.

Maka, marilah keluarga home education memanfaatkan kondisi ini supaya anak bisa belajar untuk mengendalikan diri dan otoritasnya dan tetap mengembangkan kreativitasnya yang original.

Last Updated on Monday, 23 April 2012 06:56
 
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>

Page 1 of 2

The Logo

Search

Get Update

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Login

Jika anda keluarga homeschooling, silakan register dan melakukan login untuk menikmati isi website Klub Sinau ini lebih lanjut



Tulisan Terkait

Yang sedang online

We have 7 guests online

Bookmark

Add to: Mr. Wong Add to: Webnews Add to: Icio Add to: Oneview Add to: Yigg Add to: Linkarena Add to: Digg Add to: Del.icoi.us Add to: Reddit Add to: Simpy Add to: StumbleUpon Add to: Slashdot Add to: Netscape Add to: Furl Add to: Yahoo Add to: Blogmarks Add to: Diigo Add to: Technorati Add to: Newsvine Add to: Blinkbits Add to: Ma.Gnolia Add to: Smarking Add to: Netvouz Add to: Folkd Add to: Spurl Add to: Google Add to: Blinklist Information
by: camp26.biz

Join our :

Facebook Share

Share on facebook

Google +1


By PLAVEB

Choose Your Language

Browse this website in:

Blog Home Education:

 


The Root of Learning

Daftar Klub Sinau Online :

Registrasi Online

Award :